KOmnas Lansia

26 04 2009

Kepedulian Masyarakat dan Nasib Lansia PDF Print E-mail
SADAR akan hal tersebut, dalam sebuah pertemuan dengan kalangan mahasiswa, Orsos, LSM, remaja, dan PKK, Komnas Lansia mencoba menjajaki pendapat mereka tentang usia lanjut. Ternyata apa yang ada di pikiran audiens tentang usia lanjut relatif negatif dan pejoratif: ompong, keriput, cerewet, menyebalkan, beban keluarga dan masyarakat, orang rentan, tidak mempunyai kapabilitas, harus dituntun, dan anggapan minor lainnya.
Kenyataan yang ada, seperti diakui oleh Sekretaris Komnas Lansia, kondisi lansia di Indonesia memang masih memperihatinkan. Permasalahan utama yang dihadapi lanjut usia adalah penurunan kemampuan fisik dan ekonomi, sementara kebutuhan perawatan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan hidup semakin meningkat. Kemiskinan, keterlantaran dan kecacatan pada lanjut usia menyebabkan ketergantungan mereka secara ekonomi. Diperkirakan sejumlah 3,3 juta lanjut usia memerlukan pelayanan sosial, sebagian besar diantaranya terlantar dan memerlukan upaya perlindungan khusus.

Nestapa hidup yang diderita oleh sebagian lansia sebenarnya tidak saja disebabkan oleh faktor internal lansia bersangkutan, bahwa dia tidak mempersiapkan masa tuanya sejak dini, baik persiapan di bidang ekonomi, kesehatan, dan kemampuan berkarya di tengah masyarakat. Sebagiannya disebabkan oleh sikap masyarakat yang memberikan pembatasan dan bahkan isolasi secara sosial terhadap para lansia.

Inten Soeweno, Ketua II Komnas Lansia, memberikan contoh sikap atau omongan masyarakat yang membatasi ruang gerak dan aktivitas lansia. ?Udahlah, kamu kan udah tua, di rumah aja, biarkanlah yang lebih muda untuk mengurus ini-itu.? Atau seorang anak kepada orang tuanya yang sudah berusia lanjut, ?mama di rumah aja lah, jangan kemana-mana.?

Pembatasan atau pengungkungan terhadap lansia adalah sebuah sikap keliru. Sikap tersebut selain menyebabkan lansia kehilangan kepercayaan diri, frustasi, dan berdiam diri, juga akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mentalnya. Ujung-ujungnya akan berakibat pada ketergantungan (apa-apa minta bantuan orang atau keluarga) dan sakit-sakitan.

Dr. R.M. Nugroho Abikusno, M.Sc., Dr.PH., anggota Komnas Lansia, mengatakan masyarakat harus menyadari bahwa lansia merupakan bagian integral dari mereka. Lansia tidak hanya mempunyai hak tetapi juga kewajiban kepada masyarakat dan sesama warga Negara. Hak Lansia termasuk untuk hidup mandiri dan dengan harga diri. Kewajiban lansia termasuk tetap aktif di dalam masyarakat, membagi kearifan dan pengalaman serta menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada saat itu.

?Pandangan positif lansia harus dipromosikan dan menghapus semua stereotipi negatif dan sikap yang menyebabkan pemisahan lansia di dalam masyarakat? tegas Dr. Nugroho.

Sikap positif dari masyarakat merupakan salah satu syarat agar para lansia menjalani masa tuanya dengan bahagia dan mampu menyumbangkan pemikiran dalam membangun negara.

Pembatasan, apalagi pengisolasian dari kehidupan sosial kemasyarakatan, yang telah dibuat terhadap lansia perlu dihilangkan. Komnas Lansia akan mengupayakan lahirnya kebijakan yang mengintegrasikan lansia ke dalam masyarakat. Lansia juga menginginkan hak untuk menentukan nasib mereka sendiri dan diberdayakan untuk mengatasi masalah mereka sendiri.

Komnas lansia mengimbau kepada masyarakat, terutama keluarga lansia, untuk menghindarkan sejauh mungkin pikiran untuk menitipkan para lansia kepada tempat pelayanan sosial lansia atau panti jompo. Hal tersebur berarti pemisahan lansia dari keluarga dan masyarakatnya. ?Tempat terbaik bagi kesejahteraan lansia adalah di tengah keluarga dan masyarakatnya?, kata Ketua Komnas Lansia.

Kesejahteraan lansia itu, jelas Ketua II Komnas Lansia, bisa dilihat dari tiga hal, yaitu cara berpikir, didukung oleh kondisi keuangan yang cukup, dan bahagia lahir batin. Berada di tengah keluarga yang harmonis adalah faktor utama bagi kebahagiaan lahir batin lansia, selain rasa hormat dan penghargaan dari anak-cucu dan masyarakatnya.

Kalau masyarakat atau anakcucu menitipkan lansia di panti jompo maka lansia bersangkutan akan merasa dicampakkan atau disingkirkan oleh keluarganya. Itu merupakan pukulan batin yang hebat dan potensial menggerogoti kesehatan dan semangat dia menjalani sisa hidup.

Sosialisasi

Untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat yang berhubungan dengan lansia, Komnas Lansia melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sampai saat ini sosialisasi tersebut secara gencar telah dilakukan kepada berbagai pihak. Salah satu upaya yang ditempuh adalah melakukan penyadaran kepada pemerintah daerah untuk membentuk Komisi Daerah (Komda) Lansia.

?Komda Lansia diharapkan menjadi perpanjangan tangan dari Komnas Lansia,? ungkap Sekretaris Komnas Lansia, H. Toni Hartono.

Selanjutnya, ada tiga tahapan yang telah dilakukan oleh Komnas Lansia dalam rangka pembentukan Komda di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. Pertama mengadakan rapat koordinasi (Rakor) antara Komnas dengan Komda di Jakarta. Jadi Komnas Lansia mengundang pihak daerah yang terkait erat dengan persoalan lansia. ?Perwakilan daerah yang datang adalah pihak Dinas Sosial dan Pemda. Tetapi untuk daerah yang Komda Lansia-nya sudah terbentuk atau positif akan terbentuk, maka yang datang adalah unsur Dinsos dan Ketua atau calon Ketua Komda?, ujarnya menjelaskan.

Komnas Lansia sudah mengadakan Rakor sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 17 ? 18 Maret 2006 dan 13 ? 14 juli 2006. Rakor pertama diikuti oleh 12 Propinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI. Yogyakarta, Banten, Lampung, Jambi, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu.

Sementara Rakor kedua diikuti oleh 9 Propinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Tahapan kedua yang dilakukan Komnas Lansia dalam rangka pembentukan Komda Lansia adalah melakukan kunjungan ke daerah dalam rangka sosialisasi Komnas Lansia dan penjajakan pembentukan Komda Lansia. Pihak daerah yang dikunjungi oleh Komnas Lansia di antaranya adalah Dinas Sosial, Biro Kesejahteraan Rakyat, dan Dinas Kesehatan.

Tahapan ketiga adalah mengundang unsur Dinas Sosial dan Biro Kesra dari semua propinsi hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakor- nas) Komnas Lansia pada tanggal 22 ? 24 November 2006 yang dilaksanakan di Bogor, Jawa Barat. Hanya Irian Jaya Barat dan Papua saja yang tidak hadir dalam Rakornas tersebut.

Sampai sekarang sudah terbentuk delapan Komda Lansia di tingkat Propinsi, yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Lampung, Bengkulu dan Sulawesi Tengah; dan satu Komda di tingkat Kabupaten/Kota, yaitu di Kabupaten Bantul. Sebagaimana halnya Komnas Lansia, keanggotaan Komda Lansia juga berasal dari unsur pemerintah, unsur perguruan tinggi, unsur dunia usaha, dan unsur LSM.

Pihak Komnas Lansia berharap bahwa Propinsi dan Kabupaten/Kota yang lain akan membentuk Komda sesegera mungkin sehingga kepeduliaan terhadap lansia pun menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Puskesmas Santun Lansia

Kebutuhan perawatan kesehatan adalah hal krusial yang hampir dialami oleh setiap lansia. Seiring per tumbuhan umur, ketahanan tubuh para lansia pun banyak mengalami penurunan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Komnas Lansia pada tahun 2006, dari segi kesehatan, terdapat Lansia dengan gangguan penglihatan sekitar 45%, gangguan pendengaran (26%), gangguan gigi mulut (40%), dan gangguan sendi (60%). Penyakit tekanan darah tinggi, gangguan lambung dikeluhkan oleh hampir 20% lansia. Selain itu, gangguan jantung, asma, gangguan ginjal, penyakit diabetes mellitus dan jatuh dialami oleh sekitar 5 ? 7% lansia.

Kondisi demikian menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan usia lanjut sangat dibutuhkan. Dan peran Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dalam hal ini sangat vital.

Dalam Sistem Kesehatan Nasional, Puskemas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan yang berada di tengah-tengah masyarakat. Puskesmas sangat besar peranannya dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat dengan pencegahan penyakit dan menunda kecacatan. Dalam kaitannya dengan kelanjutusiaan dan penyakit generatif, Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, Anggota Komnas Lansia menyatakan bahwa peran Puskesmas harus dibuat peka usia, termasuk kesehatan lanjut usia.

Prof. Tri menjelaskan bahwa Puskesmas Santun Usia Lanjut adalah Puskesmas yang melakukan pelayanan kesehatan kepada prausia lanjut dan usia lanjut meliputi aspek promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah), kuratif (menolong menyembuhkan) dan rehabilitatif (pemulihan) dengan lebih menekankan unsur-unsur: Pertama, pro aktif berupa pelayanan kesehatan pada saat kegiatan dan kunjungan rumah. Kedua, kemudahan proses pelayanan berupa fasilitas loket dan ruang pemeriksaan tersendiri. Ketiga, santun, artinya secara proporsional memberikan perlakuan sopan, hormat, menghargai dan memberikan dukungan untuk mendorong kemandirian.

Hal keempat yang ditekankan adalah dilakukan oleh tenaga profesional, yang penatalaksanaannya terkoordinasi dengan unsur lintas sektor maupun swasta berdasarkan kemitraan. Dan kelima melaksanakan pelayanan dengan standar baku yang berlaku.

Ditambahkannya pula, secara internasional, WHO menyarankan seyogyanya Puskesmas Santun Lansia mampu memberi pelayanan kepada Lansia dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip: (1) Informasi, edukasi dan pelatihan bagi petugas untuk meningkatkan kompetensi pelayanan kesehatan lanjut usia; (2) Sistem pelayanan yang terjangkau, terintegrasi, dalam jejaring, berkesinambungan dengan melibatkan stakeholders; (3) Sarana dan prasarana yang memadai dari segi bangunan, transportasi, petunjuk/marka, penerangan, serta kebersihan.

Sejauh mana kebijakan Puskesmas Santuan Usia Lanjut ser ta prinsip WHO dalam pelayanan kesehatan lansia tersebut telah dilaksanakan di Puskesmas Santun lansia yang ada, masih perlu dipastikan oleh Komnas Lansia. Karena itu dalam tahun 2007 ini Komnas Lansia akan melakukan penelitian mengenai hal tersebut di Puskesmas Santuan Lanjut Usia.
Selain melakukan evaluasi terhadap implementasi kebijakan Puskesmas Lansia, hasil penelitian ini juga akan dijadikan sebagai tahap awal oleh Komnas Lansia untuk menyusun rekomendasi tentang Puskesmas Santun Lansia yang betul-betul mampu memberikan pelayanan ideal kepada para lansia sehingga kemandirian para lansia bisa dipertahankan selama mungkin. (Afr)


Aksi

Information

3 responses

2 06 2010
ronin hidayat

Terima kasih Kang Asep, atas artikelnya shg saya downlod gratis…

23 08 2011
aseprahmat

ya sama-sama pak,, sukses untuk komda komnas nya,,, posisi dimana?

23 08 2011
aseprahmat

sama2 pak,, posisi dmn?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: