Stress dan reaksi tubuh

4 07 2009

Stress sering diartikan secara sekilas sebagai tekanan yang sering dihadapi sehari-hari. Di saat masalah datang menghadang, orang-orang kerap dengan mudah mendefenisikan diri mereka dalam keadaan ini. WASPADA Online

Stress sering diartikan secara sekilas sebagai tekanan yang sering dihadapi sehari-hari. Di saat masalah datang menghadang, orang-orang kerap dengan mudah mendefenisikan diri mereka dalam keadaan ini.

Padahal, kalau mau ditinjau dari segi medis secara lengkap, stress meliputi aspek yang sangat luas termasuk dalam reaksi-reaksi sistem tubuh yang diakibatkannya, dalam kata lain stress tidak selamanya hanya berhubungan dengan pikiran.

Secara lengkap, stress dapat didefenisikan sebagai beban jasmani dan rohani yang melewati
ambang batas tubuh seseorang, dan memang, dari segi yang paling sering, faktor pemicu stress banyak dikaitkan dengan faktor emosional termasuk pikiran, meskipun disamping itu berperan pula faktor fisik sebagi pemicunya.

Ada banyak faktor fisik yang dimaksudkan disini termasuk polusi udara, suhu, panas, kebisingan melebihi ambang batas dan sebagainya, dengan kata lain lingkungan memang sangat mudah muncul sebagai pemicu stress ini.

Stress dan Berbagai Reaksi Tubuh
Orang sering tidak menyadari kalau faktor stress erat sekali kaitannya dengan reaksi tubuh yang merugikan kesehatan. Penyebab penyakit kebanyakan sekarang ini, dari banyak riset yang dilakukan oleh para ahli, menemukan stress berperan penting dalam menimbulkan penyakit-penyakit serius bahkan sampai pada mutasi sel yang berperan dibalik terjadinya kasus-kasus kanker.

Latar belakang utama dari pemicu ini sebenarnya ada pada reaksi yang mengakibatkan serangkaian keadaan dimana tubuh akhirnya kehilangan banyak aspek penting dalam proses kerjanya sehingga salah satunya dapat secara drastis menurunkan daya tahan tubuh, sebagai faktor utama yang berperan dalam melawan penyakit. Ketika kita menghadapi stress, tubuh akan mengadakan reaksi secara terpadu untuk menghadapi stressor (berbagai hal yang berperan sebagai pemicu stress) tersebut.

Ada beberapa mekanisme yang kini sudah dibuktikan, dan beberapa diantaranya berkaitan dengan sistem hormonal, dimana stress secara otomatis akan menyebabkan otak mengaktifkan sistem hormon untuk memicu sekresinya.

Para ahli menilai mekanisme hormonal ini dapat menjelaskan penurunan daya tahan tubuh yang dipicu dari keadaan stress tersebut, paling tidak sebagai satu faktor yang paling relevan untuk menemukan hubungannya secara signifikan.

Stress dan Faktor Hormonal
Dari beberapa penelitian, stress paling banyak memicu sekresi hormon kortisol, dimana hormon ini selanjutnya akan bekerja mengkoordinasi seluruh sistem di dalam tubuh termasuk jantung, paru-paru, peredaran darah, metabolisme dan sistem imunitas tubuh dalam reaksi yang ditimbulkannya.

Sekresi hormon ini sekaligus menjelaskan mengapa ketika menghadapi stress tekanan darah dan denyut jantung meningkat secara cepat. Peningkatan kerja sistem pernafasan ini akan mengakibatkan paru-paru bekerja ekstra untuk mengambil oksigen lebih banyak hingga meningkatkan juga peredaran darah di seluruh bagian tubuh mulai dari otot-otot hingga ke otak, dan peningkatan tersebut disebutkan beberapa riset bisa naik mencapai 300% melebihi batas normal.

Akibatnya, bukan jantung saja yang dapat terasa berdebar, namun keseluruhan sistem tubuh termasuk pengeluaran keringat juga akan meningkat dengan cepat.

Selain hormon kortisol, ada hormon lain yang turut berperan dalam reaksi ini, diantaranya hormon katekolamin yang terdiri dari zat aktif dopamin, norepinefrin dan epinefrin yang lebih dikenal dengan adrenalin. Selain meningkatkan sekresi hormon yang erat kaitannya dengan peningkatan kerja sistem tubuh ini, katekolamin tadi juga akan mengaktifkan suatu sistem ingatan jangka panjang yang akan mengingat stressor yang sama pada peristiwa selanjutnya serta menekan bagian otak yang berperan dalam ingatan jangka pendek.

Dalam sebuah penelitian, penekanan ingatan jangka pendek ini dinilai para ahli sebagai faktor utama yang menyebabkan orang tidak lagi dapat dengan mudah berpikir secara rasional ketika mereka dilanda stress.

Sistem Imunitas dan Metabolisme Tubuh
Dari pengaturan pusat hormonal tadi, sistem imunitas tubuh akan mengaktifkan beberapa jalurnya pada kulit, sumsum tulang dan kelenjar limfe untuk lebih siaga terhadap perlawanan stress tersebut.

Aliran darah di kulit biasanya akan berkurang untuk dialihkan ke organ lain yang lebih penting sehingga orang-orang yang menghadapi stress biasanya gampang berkeringat, dimana dalam pengertian awam sering disebut keringat dingin.

Aliran cairan di mulut juga akan berkurang sehingga mulut akan mudah terasa kering dan otot-otot di sekitar kerongkongan akan menegang sehingga sulit untuk melakukan aktifitas termasuk berbicara dan menelan.

Terhadap sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan, para ahli tadi menjelaskan pengaruh reaksi stress dari proses kehilangan berbagai vitamin dan mineral akibat sekresi hormon adrenalin secara berlebihan, karena produksi hormon ini berkaitan erat dengan peranan berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin B dan C, besi, kalium serta kalsium.

Akibatnya, bukan saja kehilangan vitamin dan mineral tadi yang jadi masalah, namun juga efek lanjutnya terhadap pertahanan dan imunitas tubuh yang menjadi salah satu peran penting dari vitamin dan mineral-mineral tubuh tersebut dalam faktor penting pembentuknya, misalnya vitamin C yang berperan dalam pertahanan tubuh dan vitamin B yang berperan dalam pengaturan sistem saraf.

Lebih lanjut, penurunan semua sistem ini akan mempengaruhi asupan normal tubuh dimana penderitanya biasanya menjadi kurang beristirahat,sulit tidur, kurang nafsu makan sementara mereka harus mengeluarkan energi berlebihan untuk mengatasi stress yang mereka alami, sehingga kehilangan zat-zat gizi menjadi patokan penting disini.

Proses psikologis yang terjadi juga dengan mudah bisa memicu berbagai penyakit yang dikenal
sebagai psikosomatik mulai dari pusing, diare, mualmuntah, sakit otot dan sendi, dan banyak gangguan fungsi lain sebagai akibat terganggunya berbagai sistem tubuh yang disebutkan diatas.

Dari banyak mekanisme yang mereka temukan, para ahli yang mengadakan riset dalam bidang ini menyebutkan lagi bahwa besarnya peranan stress dalam memicu berbagai penyakit tanpa disadari oleh penderitanya bahkan tak jarang oleh tenaga medis sendiri, menyebabkan penting sekali untuk menelusuri kejadian stress yang menimpa pasien dalam suatu sistem terapi secara terpadu, dan menurut mereka lagi, hal ini sekaligus menjelaskan mengapa sebagian penyakit bisa menemukan progresifitas penyembuhan yang baik setelah faktor stress ini ikut ditangani.





Stop Smoke!!!

4 07 2009

Himbauan untuk menghentikan kebiasaan merokok mungkin sudah sangat sering kita dengar, dan kebanyakan dari strategi yang ditawarkan selama ini masih terbatas ke dalam hal-hal seputar konseling dan motivasi diri. WASPADA Online

Himbauan untuk menghentikan kebiasaan merokok mungkin sudah sangat sering kita dengar, dan kebanyakan dari strategi yang ditawarkan selama ini masih terbatas ke dalam hal-hal seputar konseling dan motivasi diri.

Tak heran, usaha ini jarang sekali terlihat keberhasilannya, apalagi, para perokok yang cenderung memiliki aspek kecanduan tak semudah itu menyadarkan dirinya sendiri atas kebiasaan tidak sehat ini. Parahnya, beberapa survei yang pernah dilakukan justru mencatat tingkat kesulitan lebih besar bagi negara-negara berkembang dibandingkan negara maju yang sudah lebih tinggi pula kesadaran penduduknya.

Bukan hanya dari segi frekuensi penggunanya, namun pelakunya juga lebih susah untuk dilarang. Kesulitan ini membuat para periset akhirnya mengalihkan strategi mereka ke arah yang sedikit lebih ekstrim, yakni dengan penggunaan obat mulai dari obat-obatan bertaraf ringan seperti dalam bentuk permen, hingga ke spray bahkan obat-obat oral yang memerlukan petunjuk lebih lanjut dari ahlinya.

Perbedaan Persepsi dan Sulitnya Menghentikan Kebiasaan
Berbagai strategi yang dirancang untuk menghentikan kebiasaan merokok memang jarang menemukan keberhasilan total karena selama ini masih terbatas dalam hal konseling, perencanaan serta meditasi yang belum tentu bisa dilaksanakan dengan baik oleh para penggunanya.

Lagi, promosi kesehatan belum tentu bisa membuka pikiran mereka akan bahaya yang bakal dihadapi nantinya, dan ini berkaitan dengan adanya banyak perbedaan persepsi tentang zat berbahaya dibalik kandungan rokok itu sendiri. Survei lain secara terpisah menyebutkan bahwa di kebanyakan negara rokok sama sekali belum dianggap sebagai masalah kesehatan global dan masih terbatas pada kebiasaan buruk yang bisa mengundang penyakit.

Persepsi tentang efek nikotin sendiri masih belum menemukan keseragamannya bahkan di kalangan para ahli sendiri. Di saat satu riset menemukan persamaan efek addiksinya dengan zat berbahaya lain seperti heroin atau kokain, ri set lain mempublikasikan bahwa kadar paparan nikotin masih jauh lebih rendah dibanding zat tadi.

Benar atau tidak, nikotin dan bermacam-macam kandungan rokok yang memuat beberapa zat berbahaya bagi tubuh memang memiliki efek yang mengancam kesehatan lewat pengaruhnya pada timbunan atau plak pembuluh darah, sistem kerja saraf bahkan yang lebih ekstrim, perkembangan mutasi sel yang sewaktu-waktu bisa berakibat fatal.

Satu hal yang menarik dari salah satu survey menyebutkan bahwa kebanyakan kelompok yang berhasil menghentikan kebiasaannya justru kelompok orang-orang yang atas suatu dorongan mulai dari tuntutan sosial-ekonomi bahkan kehilangan orang terdekatnya akibat penyakit yang dipicu oleh kebiasaan ini menghentikan secara total dan seketika kebiasaan merokok mereka.

Cara yang dikenal dengan istilah ‘cold turkey’ ini terkadang punya efek merugikan juga bagi kesehatan karena kebiasaan yang sudah berlangsung dengan interaksi zat kandungannya pada organ tubuh dari macam-macam efek termasuk kecenderungan ketergantungan tersebut bisa menimbulkan gangguan lain bagi kesehatan seperti kehilangan atau kelebihan nafsu makan, sulit tidur, kecemasan berlebihan, lemas hingga gangguan mental lainnya, sehingga tak jarang, yang Anda dengar dari sebagian ahli cara penghentian yang dianjurkan justru secara bertahap dengan mengurangi jumlah rokok yang dihisap setiap harinya sampai mencapai jumlah minimal dan akhirnya tidak sama sekali. Hal ini sedikit banyaknya masih membuktikan bahwa dorongan motivasi masih bisa jadi cara ampuh untuk menghentikan kebiasaan merokok, meski kecenderungan untuk kembali lagi menjadi pecandu bisa terbuka sewaktu-waktu.

Sementara cara-cara perencanaan tersebut dianggap sangat minim tingkat keberhasilannya, beberapa cara lain lewat terapi alternatif termasuk hipnotis atau penggunaan jarum akupunktur juga masih cukup dipertentangkan, walau masih sedikit lebih menjanjikan dari sekedar motivasi dan konseling.

Reaksi Ketergantungan Terhadap Rokok
Dampak buruk merokok terhadap tubuh jelas sudah sering sekali dibicarakan, namun penelusuran efek ketergantungan dalam menyebabkan kecanduan dan sulitnya menghentikan kebiasaan merokok sebenarnya terletak di sistem kerja otak dan persarafannya, dimana nikotin yang masuk melalui inhalasi rokok tersebut mempengaruhi beberapa reseptor otak yang dise but Nicotinic Acetylcholine Receptors (nAChRs) dalam memicu pengeluaran dopamine yang lebih lanjut menghasilkan rasa nyaman sehingga memerlukan pasokan lebih lagi dari nikotin melalui hisapan rokok selanjutnya.

Mengenal Berbagai Jenis Obat-Obatan Yang Digunakan
Teknologi kedokteran su dah mengenal beberapa jenis obat-obatan yang pernah diteliti bisa membantu menghentikan kebiasaan merokok bagi penderitanya, antara lain yang digunakan selama ini adalah Bupropion SR, kemudian beberapa inovasi lain di luar obat oral seperti permen nikotin, inhaler, patch berikut obat semprot melalui hidung, yang kesemuanya hanya dapat digunakan dengan resep dokter untuk pengawasan penggunaannya lebih lanjut.

Seperti obat-obatan lain, teknologi ini belakangan dianggap belum maksimal dan masih terbentur dengan beberapa kontraindikasi termasuk wanita hamil, ingin hamil, menyusui, usia sebelum 18 tahun dan sebagainya. Penggunaan obat juga masih bergantung pada berat ringannya kebiasaan merokok seseorang.

Celah-celah yang masih menghasilkan beberapa kekurangan dari penggunaannya tadi masih terus dikembangkan oleh para ahli, dan baru-baru ini ada sebuah jenis obat baru yang dipublikasikan bahkan sudah digunakan di beberapa negara termasuk Indonesia dalam waktu yang masih tergolong singkat dengan cara kerja yang sudah dijelaskan lewat reaksi ketergantungan tadi.

Obat yang dikenal dengan nama Varenicline tersebut sekarang mulai banyak digunakan dalam usaha menghentikan kebiasaan merokok, dengan alur kerja menggantikan nikotin dalam ikatannya terhadap reseptor otak. Dengan pengambilalihannya, pelepasan dopamin akan berkurang sehingga rasa nyaman sebagai latar belakang timbulnya keinginan merokok lagi tadi akan berkurang.





aku tambah tua….

4 07 2009

ANGKA pertumbuhan lansia mencapai 2,5 persen per tahun, lebih besar dari angka pertumbuhan populasi dunia yang hanya 1,7 persen per tahun.

Hingga 30 tahun mendatang diperkirakan akan terjadi ledakan penduduk usia lanjut mencapai 200-400 persen. Sementara kenaikan populasi penduduk usia lanjut di Indonesia antara tahun 1990 dan 2025 akan mencapai 414 persen dari 32 juta orang pada tahun 2002.

BERSAMAAN dengan bertambahnya usia, terjadi pula penurunan fungsi organ tubuh dan berbagai perubahan fisik. Penurunan ini terjadi pada semua tingkat seluler, organ, dan sistem. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan kejadian penyakit pada lansia.

Masalah lain yang timbul adalah menurunnya kemampuan kognitif (gejala ringan adalah mudah lupa dan jika parah akan menyebabkan kepikunan). Ada banyak faktor yang terkait dengan menurunnya kemampuan kognitif pada kelompok lanjut usia ini. Faktor gizi dan pola hidup yang sehat merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan kognitif warga senior.

Di sebuah provinsi di China disebutkan, terdapat populasi lansia yang sebagian besar berusia lebih dari 100 tahun masih hidup dengan sehat dan sedikit sekali prevalensi kepikunan di sana. Menurut mereka, rahasianya adalah menghindari makanan modern, banyak mengonsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik yang tinggi, dan sosialisasi dengan warga lainnya, dan sebagai tambahan mereka hidup di tempat yang sangat bersih dan jauh dari polusi udara.

Homosistein dan menurunnya kemampuan kognitif

* Menjadi tua adalah pasti, yang terpenting adalah bagaimana menjadi tua tapi sehat dan tidak membebani, termasuk di antaranya mencegah terjadinya kepikunan.

Menurunnya kemampuan kognitif sering kali dianggap sebagai masalah biasa dan merupakan hal yang wajar terjadi pada mereka yang berusia lanjut. Padahal, menurunnya kemampuan kognitif yang ditandai dengan banyak lupa merupakan salah satu gejala awal kepikunan.

Kognitif adalah kemampuan pengenalan dan penafsiran seseorang terhadap lingkungannya berupa perhatian, bahasa, memori, visuospasial, dan fungsi memutuskan. Kemunduran yang paling dominan ditemui adalah menurunnya kemampuan memori atau daya ingat. Demensia merupakan suatu kemunduran intelektual berat dan progresif yang mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas harian seseorang.

Ada satu hipotesis yang menyatakan kepikunan memiliki keterkaitan, baik secara langsung maupun tidak, dengan hiperhomosisteinemia pada lansia. Hiperhomo-sisteinemia adalah berlebihan kadar homosistein dalam darah. Hiperhomosisteinemia ini berkaitan dengan rendahnya konsentrasi folat, vitamin B12, dan vitamin B6.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kaplan et al (2001, 2002) yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition, yang menunjukkan bahwa kemampuan kognitif lansia dapat ditingkatkan dengan pemberian makanan yang terbuat dari karbohidrat lemak dan protein yang dibuat dalam bentuk makanan dan minuman.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Brian et al (2002) pengaruh pemberian suplemen dalam bentuk kapsul yang terdiri dari asam folat, vitamin B12, dan vitamin B6 menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kemampuan mengingat wanita dari berbagai kelompok umur.

Sebagaimana diketahui bahwa karbohidrat, protein, serta lemak merupakan komponen gizi yang berperan sebagai makanan otak. Akan tetapi, optimalisasi perannya perlu ditunjang dengan vitamin dan mineral yang berfungsi untuk mengoptimalkan metabolisme komponen gizi tersebut. Sementara kita juga memahami bahwa proses penuaan juga berkaitan dengan menurunnya kemampuan daya cerna.

Homosistein, folat, vitamin B6, dan vitamin B12

*
Pada dekade terakhir ini folat, vitamin B6, dan vitamin B12 dapat dikatakan menjadi primadona di bidang pangan dan gizi.

Hal ini lebih kepada peran folat, B6, dan B12 sebagai koenzim yang memiliki spektrum kerja yang luas. Diketahui bahwa folat dan kofaktor lainnya, seperti vitamin B6, B12, dan metionin, berperan dalam metilasi biologis dan pemeliharaan pool folat intraseluler untuk sintesis DNA.

Konsentrasi folat merupakan determinan penting dari total homosistein. Meningkatnya konsentrasi homosistein diperkirakan secara langsung memengaruhi karsinogenesis dengan berkurangnya DNA di jaringan yang penting melalui peningkatan secara simultan S Adenosilhomosistein. Penggunaan homosistein sebagai cara untuk menilai folat dalam karsinogenesis ini penting karena hal ini mungkin berkaitan dengan metabolisme folat yang merupakan indikasi berkurangnya fungsi-fungsi enzim yang terlibat dalam metabolisme homosistein.

Homosistein merupakan asam amino yang terbentuk sebagai hasil demetilasi metionin. Homosistein akan terakumulasi dalam darah jika terjadi gangguan dan konsentrasinya bergantung pada status folat, B6 dan vitamin B12. Ketergantungan homosistein pada folat, B6, dan B12 cukup tinggi, mengingat secara biokimia pemecahan homosistein menjadi sistein membutuhkan vitamin B6, dan remetilasi kembali menjadi metionin membutuhkan B12 dependent enzyme dengan folat sebagai substratnya.

Kebutuhan vitamin B6, B12, dan folat harus tercukupi, baik melalui pangan sumber folat (sayur dan buah) maupun vitamin B12 (daging-dagingan) karena kedua vitamin tersebut penting untuk membantu mengurangi kadar homosistein dalam tubuh kita. Homosistein yang menjadi penyebab segala penyakit degeneratif, sebagai akibat dari pola makan dan gaya hidup kita di masa lalu yang kurang sehat.

Potensi pisang

* Proses penuaan selalu disertai dengan meningkatnya kejadian ketidak-cukupan status vitamin B6. Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia dan memengaruhi metabolisme vitamin B6.

Meskipun mekanismenya sampai saat ini belum dapat dijelaskan, beberapa hasil penelitian yang dilakukan secara eksperimental menunjukkan adanya hubungan antara status vitamin B6 dengan respons imunitas dan kapasitas kognitif pada lansia.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di tahun 1990-an menunjukkan bahwa pisang dapat memenuhi 2/3 kebutuhan vitamin B6 pada lansia dengan status ekonomi rendah yang tinggal di daerah metropolitan.Ada juga yang memenuhi kebutuhan vitamin B6-nya hanya dari sayur dan buah. Fakta penting dari penelitian ini adalah bahwa pisang mengandung vitamin B6 yang dapat memenuhi sebanyak 30 persen dari total kebutuhan vitamin B6. Keuntungan lain dari pisang adalah sifatnya yang padat gizi, ekonomis, dan mampu memenuhi kebutuhan vitamin B6 dan folat dalam jumlah yang cukup signifikan dan siap santap dan sangat cocok untuk mencegah demensia sejak dini.

Kebutuhan vitamin B6 dan folat dapat dipenuhi dengan cara mengonsumsi 1,5 – 2 pisang dalam setiap hari. Karena, 100 gram pisang mengandung 0,58 miligram vitamin B6. Sementara satu buah pisang ukuran sedang seberat 120 gram mengandung 0,70 miligram, artinya guna memenuhi kebutuhan vitamin B-6 untuk lansia berkisar antara 1,5-2 mg/harinya, cukup mengonsumsi dua buah pisang setiap harinya.

Dua buah pisang setara dengan dengan 58 mikrogram folat meskipun hanya memenuhi sepertiga kebutuhan folat tubuh karena 2/3- nya dapat dipenuhi dari sumber folat lainnya, seperti brokoli, bayam, dan kacang-kacangan.

Kebutuhan vitamin B12 tidak dapat dipenuhi dari sumber pangan nabati, untuk memperolehnya harus mengonsumsi sumber pangan hewani, susu, kerang, dan daging. Untuk yang terakhir, yakni daging, sebaiknya yang tanpa lemak dan tidak terlalu banyak.

Keunggulan lain pisang adalah kandungan energinya merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan dan dapat secara cepat tersedia bagi tubuh.

Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indeks glikemik lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul rasa kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi sehingga aktivitas secara biologis juga menurun.

Untuk melakukan aktivitasnya, otak memerlukan energi berupa glukosa. Glukosa darah sangat vital bagi otak untuk dapat berfungsi dengan baik, antara lain diekspresikan dalam kemampuan daya ingat. Glukosa tersebut terutama diperoleh dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat terbatas keberadaannya.

Jadi, tips mudah untuk mencegah demensia adalah dengan dua buah pisang ukuran sedang dan minum susu setiap hari, sepertinya akan cukup membantu.*





Pil KB

4 07 2009

Pil KB tidak semuanya sama. Mereka berbeda dalam tipe dan dosis dalam penggunaan hormonnya. Ketika pil pertama kali diperkanalkan di Amerika Serikat berisi estrogen 80-100 mg. Setahun kemudian pil KB pertama di Eropa berisi estrogen 50 mg. Pil KB modern seperti pil KB dengan drospironone mengandung dosis lebih rendah (20-30 mg). WASPADA Online

Pil KB tidak semuanya sama. Mereka berbeda dalam tipe dan dosis dalam penggunaan hormonnya. Ketika pil pertama kali diperkanalkan di Amerika Serikat berisi estrogen 80-100 mg. Setahun kemudian pil KB pertama di Eropa berisi estrogen 50 mg. Pil KB modern seperti pil KB dengan drospironone mengandung dosis lebih rendah (20-30 mg).

Pil KB kombinasi klasik terdiri dari komponen bahan aktif estrogen dan progestin. Keduanya mempunyai peran untuk menghindari kemungkinan terjadinya pembuahan. Komponen estrogen pada semua pil KB kombinasi biasanya sama yaitu Ethinylestradiol, sedangkan komponen progesteron yang biasanya berbeda-beda. Produk yang termasuk katagori ini yang mengandung Noresthisterone, Levonorgestrel, Gestodene, Siproteron, Asetat, Drospirenone dan Norgestimate.
Pil KB kombinasi trifasik juga merupakan pil dosis rendah. Keistimewaan dari pil ini dosis estrogen dan progestin yang diberikan bervariasi dengan maksud untuk memberikan kemiripan kadar hormon seperti kondisi fisiologis siklus haid seorang wanita.

Pil KB kombinasi memiliki pearl index 0.1-0.7 sehingga dapat dikatakan sangat efektif. Pearl index adalah skala untuk mengukur kehandalan metode kontrasepsi. Pearl index dihitung dari jumlah kehamilan yang terjadi pada 100 pengguna metode kontrasepsi per tahun.

Pada tahun 2005 diluncurkan kontrasepsi orang pil KB dengan drospirenone yang mengandung progestin yang unik. Drospirenone sendiri sangat berbeda dari progestin yang terkandung pada kontrasepsi oral lainnya, dimana profil farmakologinya sangat serua dengan hormon progesteron alami yaitu dengan adanya aktifitas antimineralokortikoid. Dengan efek ini drospirenone dapat melawan efek yang ditimbulkan oleh komponen estrogen yaitu menyebabkan penumpukan air di dalam jaringan tubuh yang pada akhirya menimbulkan berbagai keluhan.

Pil KB dengan dorspirenone merupakan pil KB terbaru yang memberikan perlindungan kontrasepsi yang dapat diandalkan, dengan berbagai manfaat tambahan dalam suatu kombinasi yang unik. Pil Kb dengan drospirenone adalah pil yang membuat pemakainya merasa lebih nyaman, Mengandung progestin baru, drospirenone yaitu hormon yang sangat menyerupai progesteron, salah satu hormon dalam tubuh.

Drospirenone memiliki profil farmakologis yang sangat mirip dengan progesteron alami dengan karakteristik memiliki efek antimineralokortikoid dan antiandrogenik, tidak memiliki aktivitas estrogenik, androgenik, glukortikoid atau antiglukortikoid.

Dengan sifat antimineralokortikoid, pil KB drospirenone dapat memberikan manfaat tambahan yakni tidak menaikkan berat bada, mengurangi gejala bloating atau rasa kembung, memperbaiki mood (suasana hati), mengatasi keluhan menjelang dan saat haid, tidak menaikkan tekanan darah.

Dengan sifat anti-androgennya pil KB dengan drospironen dapat memberikan manfaat tambahan yakni mengurang produksi sebum, mengurangi jumlah jerawat, mempercantik kulit dan rambut.
Manfaat tambahan pada efektivitas pil KB drospirenone juga memberikan manfaat siklus haid lebih teratur, mengurangi kram pada waktu haid.

Sedangkan manfaat risiko mengurangi risiko fibroid (tumor jinak pada rahim), mengurangi kista indung telur, mengurangi insiden tumor jinak payudara, mengurangi penyakit radang panggul, mengurangi insiden perdarahan berat dan lama dan kekurangan zat besi karena anemia.
Untuk manfaat jangka panjang mengurangi risiko kanker endometrium, mengurangi risiko kanker indung telur, salah satu kanker kandungan yang paling mematikan.

Yang dapat menggunakan pil KB drospironen yakni wanita sehat pada usia subur dengan dan tanpa anak, wanita sehat yang tidak merokok dapat minum pil KB dengan drospironen hingga menopause, wanita yang menginginkan perlindungan tinggi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.

Ada beberapa kondisi dan masalah kesehatan dimana pemakaian pil KB tidak dianjurkan yaitu kehamilan, menyusui, perdarahan vagina yang tidak jelas, penyakit hati, merokok terutama setelah usia 35 tahun, riwayat penyakit jantung, stroke atau tekanan darah tinggi, masalah pembekuan darah atau diabetes, kanker payudara dan migren.





Bioterorisme

4 07 2009

Bioterorisme adalah pelepasan yang disengaja dari kuman virus, bakteri, ataupun kuman lainnya yang digunakan untuk menyebabkan kesakitan ataupun kematian pada manusia, hewan, ataupun tanaman. WASPADA Online

Bioterorisme adalah pelepasan yang disengaja dari kuman virus, bakteri, ataupun kuman lainnya yang digunakan untuk menyebabkan kesakitan ataupun kematian pada manusia, hewan, ataupun tanaman.

Memang kuman ini diperoleh secara alamiah, tetapi kuman-kuman tersebut dapat dirubah sehingga kemampuannya untuk menyebabkan penyakit dapat ditingkatkan, yang membuat kuman-kuman tersebut akan kebal atau resisten terhadap pengobatan yang telah ada, ataupun kemampuannya untuk menyebar kesekitarnya menjadi bertambah hebat, baik melalui udara, air ataupun makanan. Sering pula dikenal sebagai senjata biologik.

Para teroris menggunakan kuman-kuman ini karena sangat sukar untuk dideteksi dan tidak menyebabkan penyakit untuk beberapa jam sampai beberapa hari. Bioterorisme ini dapat digunakan pada peperangan melawan suatu negara atau kelompok orang, misalnya pada tahun 2001 di Amerika Serikat spora kuman anthrax telah dikirimkan melalui sistem pos yang menimbulkan adanya istilah bioterorisme.

Ada beberapa cara penyebaran kuman yang digunakan di dalam bioterorisme, dan salah satu cara adalah secara menghirup (inhalasi) yang memberikan dampak buruk bagi kesehatan misalnya pada paru-paru.

Penggolongan
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menggolongkan bioterorisme atas beberapa golongan berdasarkan risiko yang ditimbulkannya terhadap manusia oleh karena kemudahan menyebar, beratnya kesakitan maupun kematian yang ditimbulkannya, yaitu :

Golongan A: kumpulan kuman-kuman yang mempunyai risiko yang sangat tinggi yang membahayakan keamanan suatu negara, yang secara mudah dapat menyebar dari manusia kemanusia, menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi, menyebabkan kepanikan dan kekacauan sosial dan diperlukan tindakan khusus bagi kesehatan masyarakat. Contoh penyakit yang disebabkan oleh kuman anthrax, virus cacar dan demam berdarah, kuman penyebab penyakit pes dan klostridium botulinum (penyebab keracunan makanan).

Golongan B: kumpulan kuman yang mempunyai risiko tinggi walaupun lebih rendah dari golongan A, cukup mudah menyebar, menyebabkan angka kesakitan cukup tinggi walaupun angka kematian rendah. Contoh bakteri penyebab brucellosis, salmonela, sigela, e.coli, cholera, virus alfa dan penyebab infeksi otak, zat-zat racun (toksin) dan lain-lain.

Golongan C: kuman-kuman yang mempunyai risiko paling rendah, berupa kuman-kuman yang dapat direkayasa untuk disebarkan dimasa mendatang, karena mudah didapatkan, mudah diproduksi, disebarkan dan mempunyai potensi untuk berdampak terhadap kesehatan yang utama serta berpotensi untuk menyebabkan angka kematian dan kesakitan yang tinggi.

Dampak kuman kesehatan
Yang sering digunakan untuk bioterorisme adalah kuman-kuman yang termasuk dalam golongan A, yaitu :

*Anthrax
Penyakit ini disebabkan bakteri yang berspora, yaitu Bacillus anthracis. Spora kuman ini sangat stabil, masih bertahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah dan air, sehingga membuat kuman ini cocok digunakan untuk bioterorisme.

Manusia dapat terjangkit penyakit ini melalui kulit yang tercemar dengan produk binatang seperti bulu dan dagingnya, terhirup sporanya ataupun melalui makanan (daging yang mengandung kuman anthrax tanpa pengolahannya yang lama).

Gejala yang ditimbulkannya mirip penyakit influenza, yang berupa demam, menggigil, nyeri otot beberapa hari setelah menghirup spora kuman ini, kemudian keadaannya cepat memburuk.

Kuman Pes
Penyakit ini disebabkan oleh Yersinia pestis, yang menimbulkan infeksi paru (pneumonia) yang dapat menyebar dari manusia ke manusia lain. Setelah beberapa hari kemasukan kuman ini penderita menunjukkan gejala demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan dada, batuk yang mungkin berdarah dan sesak. Kutu bertanggung jawab atas penularan penyakit ini dan kuman ini menginfeksi tikus ketika kutu tadi mengisap darah tikus. Dalam keadaan normal kutu ini tidak menggigit manusia tetapi jika tikus mati karena infeksi tadi maka kutu akan menjadi lapar dan dapat menggigit manusia.

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)
Merupakan infeksi pernafasan yang disebabkan berbagai virus. Sifat virus ini sangat unik karena kemampuannya untuk memindahkan informasi genetik antar virus dan digunakan sebagai senjata biologik Gejala penyakit berupa demam, infeksi paru (pneumonia) dan akhirnya gagal nafas.

Botulisme
Penyakit ini disebabkan kuman klostridium botulinum yang terjadi melalui terhirupnya spora kuman tadi, yang dapat meracun saraf dan menimbulkan kelumpuhan otot-otot rangka tubuh dan otot-otot pernafasan. Kuman ini tidak berwarna dan tidak berbau serta dalam takaran yang kecil dapat mematikan sehingga sangat baik dipakai sebagai senjata biologik. Mula timbulnya penyakit ini dalam 24 jam sampai beberapa hari setelah berkontak dengan kuman ini.

Virus cacar
Setelah beberapa hari terinfeksi kuman ini timbul gejala berupa demam tinggi, nyeri kepala, mual muntah dan lain-lain. Yang lebih berbahaya lagi jika timbul berupa perdarahan kulit yang dapat menyebabkan kematian.

Zat-zat kimia
Selain kuman-kuman, beberapa zat kimia yang dihirup dapat digunakan sebagai bioterorisme, seperti khlorin dan fosgen. Kedua zat ini sangat berbahaya dan telah digunakan dalam skala besar sejak perang dunia pertama. Pada paru dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas dan gagal nafas, sedangkan zat lain seperti sulfur jika terhirup dapat menyebabkan kerusakan saluran nafas sampai ke bahagian yang paling kecil dari saluran nafas (alveoli).





Empat Belas Masalah Kesehatan Utama Pada Lansia

4 07 2009

Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. WASPADA Online

Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat berthan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita.

Demikian juga, masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi), impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), impotence (impotensi).

Masalah kesehatan utama tersebut di atas yang sering terjadi pada lansia perlu dikenal dan dimengerti oleh siapa saja yang banyak berhubungan dengan perawatan lansia agar dapat memberikan perawatan untuk mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

Kesehatan
* Kurang bergerak: gangguan fisik, jiwa, dan faktor lingkungan dapat menyebabkan lansia kurang bergerak. Penyebab yang paling sering adalah gangguan tulang, sendi dan otot, gangguan saraf, dan penyakit jantung dan pembuluh darah.

* Instabilitas: penyebab terjatuh pada lansia dapat berupa faktor intrinsik (hal-hal yang berkaitan dengan keadaan tubuh penderita) baik karena proses menua, penyakit maupun faktor ekstrinsik (hal-hal yang berasal dari luar tubuh) seperti obat-obat tertentu dan faktor lingkungan.

Akibat yang paling sering dari terjatuh pada lansia adalah kerusakan bahagian tertentu dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit, patah tulang, cedera pada kepala, luka bakar karena air panas akibat terjatuh ke dalam tempat mandi.
Selain daripada itu, terjatuh menyebabkan lansia tersebut sangat membatasi pergerakannya.

Walaupun sebahagian lansia yang terjatuh tidak sampai menyebabkan kematian atau gangguan fisik yang berat, tetapi kejadian ini haruslah dianggap bukan merupakan peristiwa yang ringan. Terjatuh pada lansia dapat menyebabkan gangguan psikologik berupa hilangnya harga diri dan perasaan takut akan terjatuh lagi, sehingga untuk selanjutnya lansia tersebut menjadi takut berjalan untuk melindungi dirinya dari bahaya terjatuh.

* Beser: beser buang air kecil (bak) merupakan salah satu masalah yang sering didapati pada lansia, yaitu keluarnya air seni tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang cukup mengakibatkan masalah kesehatan atau sosial. Beser bak merupakan masalah yang seringkali dianggap wajar dan normal pada lansia, walaupun sebenarnya hal ini tidak dikehendaki terjadi baik oleh lansia tersebut maupun keluarganya.

Akibatnya timbul berbagai masalah, baik masalah kesehatan maupun sosial, yang kesemuanya akan memperburuk kualitas hidup dari lansia tersebut. Lansia dengan beser bak sering mengurangi minum dengan harapan untuk mengurangi keluhan tersebut, sehingga dapat menyebabkan lansia kekurangan cairan dan juga berkurangnya kemampuan kandung kemih. Beser bak sering pula disertai dengan beser buang air besar (bab), yang justru akan memperberat keluhan beser bak tadi.

* Gangguan intelektual: merupakan kumpulan gejala klinik yang meliputi gangguan fungsi intelektual dan ingatan yang cukup berat sehingga menyebabkan terganggunya aktivitas kehidupan sehari-hari.

Kejadian ini meningkat dengan cepat mulai usia 60 sampai 85 tahun atau lebih, yaitu kurang dari 5 % lansia yang berusia 60-74 tahun mengalami dementia (kepikunan berat) sedangkan pada usia setelah 85 tahun kejadian ini meningkat mendekati 50 %. Salah satu hal yang dapat menyebabkan gangguan interlektual adalah depresi sehingga perlu dibedakan dengan gangguan intelektual lainnya.

* Infeksi: merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia, karena selain sering didapati, juga gejala tidak khas bahkan asimtomatik yang menyebabkan keterlambatan di dalam diagnosis dan pengobatan serta risiko menjadi fatal meningkat pula.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan lansia mudah mendapat penyakit infeksi karena kekurangan gizi, kekebalan tubuh:yang menurun, berkurangnya fungsi berbagai organ tubuh, terdapatnya beberapa penyakit sekaligus (komorbiditas) yang menyebabkan daya tahan tubuh yang sangat berkurang. Selain daripada itu, faktor lingkungan, jumlah dan keganasan kuman akan mempermudah tubuh mengalami infeksi.

*Gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit: akibat prosesd menua semua pancaindera berkurang fungsinya, demikian juga gangguan pada otak, saraf dan otot-otot yang digunakan untuk berbicara dapat menyebabkn terganggunya komunikasi, sedangkan kulit menjadi lebih kering, rapuh dan mudah rusak dengan trauma yang minimal.

*Sulit buang air besar (konstipasi): beberapa faktor yang mempermudah terjadinya konstipasi, seperti kurangnya gerakan fisik, makanan yang kurang sekali mengandung serat, kurang minum, akibat pemberian obat-obat tertentu dan lain-lain.

Akibatnya, pengosongan isi usus menjadi sulit terjadi atau isi usus menjadi tertahan. Pada konstipasi, kotoran di dalam usus menjadi keras dan kering, dan pada keadaan yang berat dapat terjadi akibat yang lebih berat berupa penyumbatan pada usus disertai rasa sakit pada daerah perut.

*Depresi: perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia.

Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas.

Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya.

Akan tetapi pada lansia sering timbul depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.

*Kurang gizi: kekurangan gizi pada lansia dapat disebabkan perubahan lingkungan maupun kondisi kesehatan. Faktor lingkungan dapat berupa ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi, isolasi sosial (terasing dari masyarakat) terutama karena gangguan pancaindera, kemiskinan, hidup seorang diri yang terutama terjadi pada pria yang sangat tua dan baru kehilangan pasangan hidup, sedangkan faktor kondisi kesehatan berupa penyakit fisik, mental, gangguan tidur, alkoholisme, obat-obatan dan lain-lain.

*Tidak punya uang: dengan semakin bertambahnya usia maka kemampuan fisik dan mental akan berkurang secara perlahan-lahan, yang menyebabkan ketidakmampuan tubuh dalam mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaannya sehingga tidak dapat memberikan penghasilan.
Untuk dapat menikmati masa tua yang bahagia kelak diperlukan paling sedikit tiga syarat, yaitu :memiliki uang yang diperlukan yang paling sedikit dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki tempat tinggal yang layak, mempunyai peranan di dalam menjalani masa tuanya.

*Penyakit akibat obat-obatan: salah satu yang sering didapati pada lansia adalah menderita penyakit lebih dari satu jenis sehingga membutuhkan obat yang lebih banyak, apalagi sebahagian lansia sering menggunakan obat dalam jangka waktu yang lama tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat pemakaian obat-obat yaqng digunakan.

*Gangguan tidur: dua proses normal yang paling penting di dalam kehidupan manusia adalah makan dan tidur. Walaupun keduanya sangat penting akan tetapi karena sangat rutin maka kita sering melupakan akan proses itu dan baru setelah adanya gangguan pada kedua proses tersebut maka kita ingat akan pentingnya kedua keadaan ini.

Jadi dalam keadaan normal (sehat) maka pada umumnya manusia dapat menikmati makan enak dan tidur nyenyak. Berbagai keluhan gangguan tidur yang sering dilaporkan oleh para lansia, yakni sulit untuk masuk dalam proses tidur. tidurnya tidak dalam dan mudah terbangun, tidurnya banyak mimpi, jika terbangun sukar tidur kembali, terbangun dinihari, lesu setelah bangun dipagi hari.

*Daya tahan tubuh yang menurun: daya tahan tubuh yang menurun pada lansia merupakan salah satu fungsi tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang walaupun tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat pula karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita (menahun) maupun penyakit yang baru saja diderita (akut) dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang. Demikian juga penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-lain.

*Impotensi: merupakan ketidakmampuan untuk mencapai dan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan sanggama yang memuaskan yang terjadi paling sedikit 3 bulan.
Menurut Massachusetts Male Aging Study (MMAS) bahwa penelitian yang dilakukan pada pria usia 40-70 tahun yang diwawancarai ternyata 52 % menderita disfungsi ereksi, yang terdiri dari disfungsi ereksi total 10 %, disfungsi ereksi sedang 25 % dan minimal 17 %.

Penyebab disfungsi ereksi pada lansia adalah hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin sebagai adanya kekakuan pada dinding pembuluh darah (arteriosklerosis) baik karena proses menua maupun penyakit, dan juga berkurangnya sel-sel otot polos yang terdapat pada alat kelamin serta berkurangnya kepekaan dari alat kelamin pria terhadap rangsangan.





Gizi pada Lansia

4 07 2009

1
I. KEBUTUHAN NUTRISI PADA LANSIA
A. PENDAHULUAN
Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan
kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh
untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi
yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau
menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat
menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.
Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari
kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan
tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, yaitu :
1. Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :
a. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum,
ubi, roti, singkong dll, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu
dll.
b. Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega,
margarine, susu dan hasil olahannya.
2. Kelompok zat pembangun
Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein,
baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan
dan olahannya.
3. Kelompok zat pengatur
Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan
mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN GIZI PADA
LANSIA
1. Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau
ompong.
2. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa
manis, asin, asam, dan pahit.
3. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
4. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
5. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi.
6. Penyerapan makanan di usus menurun.
C. MASALAH GIZI PADA LANSIA
1. Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota
besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan
berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya
aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk
mengurangi makan.
Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya :
penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.
2. Gizi kurang
2
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga
karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang
dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai
dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak
dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun,
kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
3. Kekurangan vitamin
Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan
kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan
menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
D. PEMANTAUAN STATUS NUTRISI
1. Penimbangan Berat Badan
a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai
peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB
lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan
penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan
berat badan.
b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa :
Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)
Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB
kurang dari 160 cm, digunakan rumus :
Berat badan ideal = TB dalam cm – 100
Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang
2. Kekurangan kalori protein
Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang
bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan
mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan
makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu
makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal
ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih
mudah sakit dan tidak bersemangat.
3. Kekurangan vitamin D
Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari,
jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang
banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.
E. PERENCANAAN MAKANAN UNTUK LANSIA
 Perencanaan makan secara umum
1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang
terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.
2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan
hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering
dengan porsi yang kecil. Contoh menu :
Pagi : Bubur ayam
Jam 10.00 : Roti
Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya
Jam 16.00 : Nagasari
Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang
3
3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar
pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan
memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah
tinggi.
4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang
berlemak seperti santan, mentega dll.
5. Bagi pasien lansia yang prose penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
· Makanlah makanan yang mudah dicerna
· Hindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan
· Bila kesulitan mengunyah karena gigirusak atau gigi palsu kurang baik,
makanan harus lunak/lembek atau dicincang
· Makan dalam porsi kecil tetapi sering
· Makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya
diberikan
6. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab
berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
7. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging
rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.
8. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau
dipanggang kurangi makanan yang digoreng
 Perencanaan makan untuk mengatasi perubahan saluran cerna
Untuk mengurangi resiko konstipasi dan hemoroid :
1. Sarankan untuk mengkonsumsi makanan berserat tinggi setiap hari, seperti
sayuran dan buah-buahan segar, roti dan sereal.
2. Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 8 gelas cairan setiap hari untuk
melembutkan feses.
3. Anjurkan untuk tidak menggunakan laksatif secara rutin , karena pasien akan
menjadi tergantung pada laksatif.
F. CARA MEMBERI MAKAN MELALUI MULUT (ORAL)
1. Siapkan makanan dan minuman yang akan diberikan
2. Posisikan pasien duduk atau setengah duduk.
3. Berikan sedikit minum air hangat sebelum makan.
4. Biarkan pasien untuk mengosongkan mulutnya setelah setiap sendokan.
5. Selaraskan kecepatan pemberian makan dengan kesiapan pasien, tanyakan
pemberian makan terlalu cepat atau lambat.
6. Perbolehkan pasien untuk menunjukkan perintah tentang makanan pilihan pasien
yang ingin dimakan.
7. Setelah selesai makan, posisi pasien tetap dipertahankan selama ± 30 menit.
G. PRINSIP PEMBERIAN MAKAN MELALUI SONDE (NGT)
Pemberian makan melalui sonde ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
pasien yang memiliki masalah dalam menelan dan mengunyah makanan, seperti pada
pasien-pasien stoke. Adapun prinsip pemberiannya adalah sebagai berikut :
1. Siapkan makanan cair dan minuman hangat
2. Naikkan bagian kepala tempat tidur 30 – 45 derajat pada saat memberi makan dan
30 menit setelah memberi makan.
3. Bilas selang sonde dengan air hangat terlebih dahulu.
4
4. Pastikan tidak ada udara yang masuk ke dalam sonde pada saat memberi makan
atau air. Pastikan pula selang dalam keadaan tertutup selama tidak diberi makan.
5. Periksa kerekatan selang, jika selang longgar beritahu perawat.
6. Laporkan adanya mual dan muntah dengan segera.
7. Lakukan perawatan kebersihan mulut dengan sering.
H. CONTOH BAHAN MAKANAN UNTUK SETIAP KELOMPOK MAKANAN
1. Bahan makanan sumber karbohidrat (zat energi) :
Nasi, bubur beras, nasi jagung, kentang, singkong, ubi, talas, biskuit, roti , crakers,
maizena, tepung beras, tepung terigu, tepung hunkwe, mie, bihun.
2. Bahan makanan sumber lemak (zat energi) :
Minyak goreng, minyak ikan, margarin, kelapa, kelapa parut, santan, lemak daging.
3. Bahan makanan sumber protein hewani :
Daging sapi, daging ayam, hati, babat, usus, telur, ikan, udang.
4. Bahan makanan sumber protein nabati :
Kacang ijo, kacang kedelai, kacang merah, kacang tanah, oncom, tahu, tempe.
I. PRINSIP LIMA BENAR PEMBERIAN OBAT ORAL
1. Benar obat : obat yang diberikan harus sesuai dengan resep dokter.
2. Benar dosis : jumlah obat yang diberikan tidak dikurangi atau dilebihkan. Penting
diingat jenis obat antibiotik harus diberikan sampai habis.
3. Benar pasien : Pastikan obat diminum oleh pasien yang bersangkutan.
4. Benar cara pemberian yaitu melalui oral : berikan obat melalui mulut atau sonde.
5. Benar waktu : Pastikan pemberian obat tepat pada jadwalnya, misalnya 3 x 1
berarti obat diberikan setiap 8 jam dalam 24 jam ; jika 2 x1 berarti obat diberikan
setiap 12 jam sekali.\
II. KEBUTUHAN CAIRAN PADA LANJUT USIA
A. PENDAHULUAN
Manusia perlu minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang setelah
melakukan aktivitas. Air sangat besar artinya bagi tubuh kita, karena air membantu
menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit disaluran kemih
seperti kencing batu, batu ginjal, dll. Air juga sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan
sendi. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit karena untuk
mengolah makanan dalam usus sangat dibutuhkan air, tentu saja tanpa air yang cukup
kerja usus tidak dapat maksimal dan timbullah sembelit.
Air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi, teh kental, softdrink, alkohol,
es, maupun sirup dan dianjurkan minimal kita minum air putih 1.5 sampai dengan 2
liter/hari. Minuman seperti kopi, teh kental, softdrink, alkohol, es, maupun sirup
bahkan tidak baik untuk kesehatan dan harus dihindari terutama bagi para lansia yang
mempunyai penyakit-penyakit tertentu seperti kencing manis, darah tinggi, obesitas,
dan jantung.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN CAIRAN PADA LANSIA
1. Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia,
sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam
tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan
bayi.
5
2. Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan kemampuan
untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi.
3. Terdapat penurunan asam lambung, yang dapat mempengaruhi individu untuk
mentoleransi makanan-makanan tertentu. Lansia terutama rentan terhadap
konstipasi karena penurunan pergerakan usus. Masukan cairan yang terbatas,
pantangan diit, dan penurunan aktivitas fisik dapat menunjang perkembangan
konstipasi. Penggunaan laksatif yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengarah
pada masalah diare.
4. Lansia mempunyai pusat haus yang kurang sensitif dan mungkin mempunyai
masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam berjalan ) atau
mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien stroke).
C. MASALAH CAIRAN PADA LANSIA
Masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan
tubuh, hal ini berhubungan dengan berbagai perubahan-perubahan yang dialami
lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi
ginjal untuk memekatkan urin dan penurunan rasa haus.
D. PEMANTAUAN STATUS CAIRAN PADA LANSIA
1. Tanda-tanda kekurangan cairan
 Tanda – tanda vital
a. Terjadi peningkatan suhu tubuh
b. Dapat terjadi peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan
(normal : 14 – 20 x/mnt)
c. Peningkatan frek. denyut nadi (normal : 60-100 x/mnt), nadi lemah, halus
d. Tekanan darah menurun
 Pemeriksaan Fisik :
a. Kulit kering dan agak kemerahan
b. Lidah kering dan kasar
c. Mata cekung
d. Penurunan BB yang terjadi scr tiba2/drastis
e. Turgor kulit menurun (Lansia kurang akurat)
 Perilaku :
a. Penurunan kesadaran
b. Gelisah
c. Lemah
d. Pusing
e. Tidak nafsu makan
f. Mual dan muntah
g. Kehausan (pada lansia kurang signifikan)
 Terjadi penurunan jumlah urin
2. Tanda-tanda kelebihan cairan
 Tanda –tanda vital
a. Terjadi penurunan suhu tubuh
b. Dapat terjadi sesak nafas
c. Denyut nadi teraba kuat dan frekuensinya meningkat
d. Tekanan darah meningkat
 Pemeriksaan fisik :
a. Turgor kulit meningkat (lansia kurang akurat)
6
b. Edema
c. Peningkatan BB secara tiba-tiba
d. Kulit lembab
 Perilaku :
a. Pusing
b. Anoreksia / tidak nafsu makan
c. mual muntah
 Peningkatan jumlah urin (jika ginjal masih baik)
E. CARA MENGHITUNG TETESAN INFUS
Rumus :
W(menit)
cairan FT
N
 ´
=
Keterangan :
N = Jumlah tetesan dalam menit
FT = Faktor tetes ( biasanya 15 )
W = Waktu pemberian dalam menit
 cairan = Jumlah cairan dalam ml
Contoh :
Ibu E mendapatkan cairan infus 500 ml dan harus habis dalam 8 jam, berapa tetes
cairan infus yang harus diberikan ?
Jawab :
 cairan = 500 ml
Faktor tetes = 15
W = 8 jam x 60 menit
tetes mnt
menit
ml
N 15.6 16 /
480
= 500 ´15 = »
7
REFERENSI :
Darmojo, R. Boedhi.,dkk.1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Gallo, Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta : EGC
Nugroho, Wahjudi.2000. Keperawatan Gerontik.Jakarta : EGC
Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4.Jakarta :EGC