kenali tidur lebih dekat

20 01 2009

1.Sexsomnia or Sleep Sex
Sexsomnia adalah gangguan tidur yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan seksual saat mereka tidur.ini sangat berbeda dengan orang yang suka berjalan saat tidur (sleepwalking). Dalam beberapa kasus, penderita tidak menyadari perilaku mereka dan akan sadar dalam waktu yang lama setelah ada bantuan.
orang-orang yang berjalan, berbicara atau makan saat tidur memang sering kita temui. tapi berhubungan seks selagi mimpi?seringkali dialami oleh kaum remaja. tapi, buat mereka yang belum menikah pun bisa mengalami hal ini. menurut dr handrawan nadesul, seks dalam tidur atau sexsomnia bisa dianggap sebagai kebiasaan yang tidak normal. sebab, pelaku seks semacam ini lebih sering berfantasi dengan sesuatu yang tidak nyata.”biasanya pria ataupun wanita single lebih banyak memuaskan hasrat seksualnya dengan masturbasi, nonton blue film, baca novel romantis, atau melihat foto-foto yang memperlihatkan lekuk tubuh wanita. tapi ketika cara tersebut tidak memuaskan, maka tidak sedikit dari mereka yang sering membawanya ke alam mimpi,” kata penulis buku dan pengasuh rubrik kesehatan di beberapa media ini.parahnya lagi, lanjut dr nadesul, mereka yang mengalami sexsomnia tidak semuanya bermimpi (seolah-olah) melakukan hubungan seks dengan pasangan lawan jenis. tetapi ada juga yang berfantasi dengan binatang atau puas “bermain” dengan celana dalam.

“jangan dikira hanya kaum pria saja yang mengalami sexsomnia. wanita pun sering mengalami fantasi seksual ini,” ujarnya.hanya pria atau wanita yang memiliki kepribadian tertutup, kurang bergaul, dan memiliki sifat pemalu bisa dengan mudah mengalami gangguan sexsomnia.”kalau remaja gaul mungkin tidak sampai mengalami gangguan sexsomnia. mereka bisa menyelesaikannya dengan cara berpacaran,” jelasnya.agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan di kemudian hari, dr nadesul pun menyarankan untuk para pelaku sexsomnia segera berkonsultasi ke dokter kejiwaan. hal ini penting, karena mereka akan terus terobsesi dengan kegiatan sexsomnia selama tidak ada penyaluran yang nyata.

2.Narcolepsy
Narkolepsi (narcolepsy) adalah gangguan tidur yang cukup umum diderita, namun seperti gangguan tidur lainnya ia juga amat jarang dikenali oleh masyarakat. Narkolepsi dalam bahasa awam, bisa dikatakan sebagai serangan tidur dimana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu ia mengantuk. Rasa kantuk dapat dipuaskan setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat tidur.
Untuk mengenali penderita narkolepsi, terdapat 4 gejala klasik (classic tetrad):
1 Rasa kantuk berlebihan (EDS)
2.Katapleksi (cataplexy)
3.Sleep paralysis
4.Hypnagogic/hypnopompic hallucination.

Narkolepsi merupakan gangguan yang penyebabnya masih belum diketahui secara pasti. Penelitian dengan menggunakan anjing-anjing narkoleptik masih terus dilakukan dan mulai menampakkan titik terang. Walau demikian, dengan perawatan yang tepat dan penuh disiplin, seorang penderita narkolepsi dapat hidup normal. Apalagi dengan disertai dukungan dari keluarga dan para sahabat yang siap menjaga keselamatan si penderita. Kecelakaan sering terjadi karena serangan lumpuh (paralysis) yang muncul tiba-tiba saat memasak, mengendara, menyetrika atau berendam.

3.Somniloquy (Sleep Talking)
Mengigau, sleeptalking atau somniloquy merupakan vokalisasi saat tidur, bisa berupa kata-kata yang jelas atau bahkan sekedar gumaman. Kondisi ini bisa dipicu oleh keadaan emosional-psikologis, demam atau tidur yang terganggu.Biasanya berlangsung pada tahap tidur ringan, atau kadang kala pada tahap mimpi (REM sleep.) Jika terjadi dalam tahap tidur mimpi, biasanya terjadi bersesuaian dengan mimpi yang mengejutkan, seperti melihat pencuri atau melihat sebuah kecelakaan. Kata-kata yang keluar bisa berkaitan erat dengan mimpi atau bahkan berlainan sama sekali, misalkan dalam mimpi meneriakkan “maling!” tetapi kata yang keluar adalah “mama!“ Si pengigau tidak ingat apa yang dikatakan atau bahkan mimpinya sendiri.

Ada sebuah gangguan tidur yang bernama REM Sleep Behavior Disorder (RBD), dimana penderitanya seringkali bermimpi harus mempertahankan diri dari serangan sehingga dalam tidur bergerak memukul, menendang dan juga mengigau. Gangguan ini banyak diderita oleh pria lanjut usia, dan biasanya diikuti dengan penyakit-penyakit syaraf degeneratif seperti parkinson. Diduga kuat RBD dapat disebabkan oleh beberapa obat psikiatris.Diluar gangguan-gangguan tidur, mengigau sampai saat ini tidak dianggap sebagai suatu gangguan ataupun penyakit. Berkaitan dengan kepercayaan tradisional maupun supranatural, saya tidak berkompetensi untuk memberikan penjelasan.

4.Kleine-Levin syndrome
Sindrom Kleine-Levin (bahasa Inggris: Kleine-Levin Syndrome disingkat KLS) adalah penyakit syaraf yang langka dimana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuknya. Penderita bisa tertidur selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan, tergantung pada berapa lama penyakit itu muncul/kambuh.

Penderita bisa bangun hanya untuk makan atau pergi ke kamar mandi. Penderita bisa dibangunkan oleh orang lain, tetapi penderita selalu mengeluh merasa capek dan letih. Ketika penderita bangun penderita bertingkah seperti anak kecil karena sebagian memorinya ingatannya terhapus pada saat penderita tertidur, banyaknya ingatan yang terhapus tergantung dari seberapa lama penderita tidur. Dan penderita sensitif terhadap suara dan cahaya ketika bangun. Penyakit ini kambuh tanpa peringatan. Sebagian penelitian di Amerika Serikat mempercayai penyebab penyakit KLS adalah mutasi gen atau DNA yang dibawa oleh orang tua penderita. Tetapi penyebab pasti KLS masih belum diketahui.

5.Sleep Apnea
disebut juga OSAS(obstructive sleep apneu syndrom) adalah suatu kumpulan gejala berupa apneu (tidak bernapas) atau hipopnea (kurang bernapas) pada saat tidur. OSAS lebih sering terjadi pada orang dewasa dibanding anak-anak. Kebiasaan mendengkur dapat terjadi pada 7-9% anak pra sekolah dan usia sekolah. Kejadian tersering pada usia 3-6 tahun karena usia ini sering terjadinya pembesaran amandel. Konon, faktor keturunan punya andil dalam menyebabkan OSAS.

Berkurangnya oksigen ke otak secara kronis, tidur tidak nyenyak, dan darah yang menjadi asam akibat OSAS menimbulkan efek buruk pada tubuh,Rasa kantuk yang berlebihan. Perkembangan anak menjadi terlambat, penampilan di sekolah kurang baik. Anak menjadi hiperaktif dan agresif, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Gangguan kognitif ringan sering terjadi.Anak gagal tumbuh disebabkan tidak mau makan, sulit menelan karena pembesaran adenoid (amandel yang letaknya di belakang rongga hidung) dan tonsil (amandel di belakang rongga mulut), peningkatan upaya untuk bernapas, dan kekurangan oksigen.OSAS dapat sebabkan gangguan paru berat,OSAS bisa menimbulkan masalah ngompol karena gangguan hormon yang mempengaruhi cairan tubuh. Sering mengalami gangguan pernapasan. Anak menghirup cairan dari saluran napas atas menimbulkan kelainan di saluran napas bawah dan infeksi pernapasan. Anak dengan tonsil besar yang mengalami kesulitan menelan atau sering merasa tercekik lebih sering mengalami radang paru-paru

6.Non-24-hour sleep-wake syndrome
Ini aneh (dan sangat langka) gangguan berupa tubuh seseorang tidak mengetahui siklus tidur selama 24 jam. Akibatnya.
Tubuh manusia bekerja dengan siklus 24 jam. Mekanisme alamiah ini dikenal dengan istilah ritme Circadian, yang menentukan berapa lama kita tidur dan kapan.pada penderita non-24-hour sleep-wake syndrome,tidak memeiliki mekanisme tersebut,sehingga tubuh mereka sulit mengontrol siklus tidur mereka.
jika terserang,biasanya penderita bisa sadar kembali setelah tidur selama 2 hari sampai 3 hari,dan kemudian normal kembali,tetapi Dalam banyak kasus ini bisa memakan waktu hingga satu minggu untuk badan untuk menyelesaikan satu siklus dari pola terganggu.kekacauan ini terjadi hampir secara eksklusif pada orang buta.

7.Restless Legs Syndrome
Restless Legs Syndrome biasanya berlaku dikalangan mereka yang dianggap normal. Mereka yang mempunyai Restlee legs syndrome tidak mampu duduk diam untuk waktu yang lama kerana mereka merasa perlu untuk menggaruk atau menggerakkan kaki mereka. Gangguan dirasai berlaku pada anggota kaki dan juga anggota tangan. Mereka yang mengidap gangguan Restless Legs Syndrome seringkali turut mengidap Masalah Pergerakan Anggota Berkala. Restless Legs Syndrome akan mengganggu pengidapnya menyebabkan mereka menghadapi masalah untuk tidur.
Dianggarkan lima hingga sepuluh peratus mengalami “Restless Legs Syndrome” pada satu ketika sepanjang hidup mereka. Restless Legs Syndrome adalah lebih kerap pada orang berumur tetapi juga didapati pada setiap peringkat umur bagi kedua-dua jantina. Sindrom Kaki Resah muncul dan menghilang tanpa sebab-sebab yang jelas, bagaimanapun kadang-kala Restless Legs Syndrome berkait dengan mereka yang mengandung.

8.Bruxism
bruxism adalah gigi gemeratuk sewaktu tidur.sindroma sendi rahang (temporomandibular jaw syndrome) sering jadi masalah besar karena memang tidak mudah dikontrol, dengan cara apa pun. Bukan hanya sampai pada masa kecil dan remaja kebiasaan merusak gigi sendiri itu akan selesai. Pada umurnya yang sudah hampir paruh baya, mulut suami Ibu Kar. masih doyan berisik kalau lagi tidur.Tidak ada obat penenang apa pun yang bisa mengerem kebiasaan yang berlangsung tanpa disadari. Si pengidap tidak sadar kalau tidurnya suka ribut sendiri begitu. Tetangga tidurnya yang tobat, tak cukup sekadar punya rasa cinta dan bertenggang rasa belaka.

9.Night Terrors
Night terrors yang berbeda dalam beberapa hal. Pertama, subjek tidak sepenuhnya sadar ketika roused, dan bahkan ketika upaya yang dibuat untuk membangunkan yang sedang tidur, ia dapat terus mengalami night terrors untuk sepuluh sampai dua puluh menit. Sering kali ini sangat berbahaya bagi orang, karena dapat menyebabkan trauma, dan bahkan seseorang terluka.

10.Rapid eye movement behavior disorder
In this disorder, a person loses paralysis which is normal for the Rapid Eye Movement period, causing their body to freely act out their dreams. These behaviours can be violent in nature and in some cases will result in injury to either the patient or their bed partner. RBD is a treatable condition. The standard therapy is the anti-convulsant drug clonazepam, and this is generally received very well. The reason for its effectiveness is unknown, but it restores the natural paralyzed state of a person in the REM stage of sleep.

Apakah anda merasa salah satu penderita dari gangguan gangguan tidur diatas??tapi anda selama ini tidak pernah menyadarinya??jika iya,segeralah konsultasi dengan dokter keluarga anda,sebelum menimbulkan efek yang nantinya dapat merugikan kesehatan anda sendiri….


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: