Cedera Kepala

4 07 2009

Kecelakaan kendaraan bermotor penyebab paling sering dari cedera kepala, sekitar 49% dari kasus. Biasanya dengan derajat cedera kepala yang lebih berat dan lebih sering mengenai usia 15-24 tahun, sekitar 70% dari kematian pada kecelakaan diakibatkan oleh cedera kepala. Sedangkan jatuh terjadi lebih sering pada anak-anak serta biasanya dalam derajat yang kurang berat. Cedera pada kepala bisa merusak kulit, tulang kepala ataupun otak. Cedera kepala dapat diklasifikasikan sebagai cedera kepala tertutup dan penetrans sedangkan berat ringannya cedera kepala dapat kita lihat dengan menilai Glasgow Coma Scale(GCS). Dengan menilai GCS cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi

1. Cedera kepala ringan, bila GCS 13 ā€“ 15
2. Cedera kepala sedang, bila GCS 9 ā€“ 12
3. Cedera kepala berat, bila GCS 3 ā€“ 8

Penderita yang sadar baik (composmentis) dengan reaksi membuka mata spontan, mematuhi perintah, dan berorientasi baik, mempunyai nilai GCS total sebesar 15. Sedang pada keadaan koma yang dalam, dengan keseluruhan otot-otot ekstremitas flaksid dan tidak ada respons membuka mata sama sekali, nilai GCS-nya adalah 3. Pasien dapat digolongkan sebagai penderita cedera kepala berat tanpa memperdulikan nilai GCS apabila ditemukan beberapa tanda berikut :

* Pupil unisokor
* Pada penilaian motorik yang tidak sama
* Terdapatnya perburukan dari status neurologis
* Cedera kepala terbuka dengan adanya kebocoran dari cairan serebro spinal (CSS) atau tampak adanya jaringan otak
* Fraktur depress pada tulang tengkorak

Penanganan pada cedera kepala harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah cedera otak sekunder dan akibat lainnya yang dapat meningkatkan angka mortalitas. Penderita cedera kepala yang dalam keadaan hipotensi mempunyai angka mortalitas dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Oleh sebab itu pada penderita cedera kepala stabilisasi kardiopulmuner juga sangat penting.
Hampir 20% penderita cedera kepala meninggal akibat penanganan atau perawatan yang salah sebelum sampai di rumah sakit. Penyebab tersering adalah syok, hipoksemia dan hiperkarbia. Dengan demikian prinsip penanganan ABC (airway, breathing dan circulation) harus dilaksanakan dengan tidak melakukan manipulasi yang berlebihan yang dapat memperberat cedera pada anggota tubuh yang lain seperti leher, tulang belakang, dada & pelvis. Faktor-faktor yang memperburuk prognosis adalah :

* Terlambatnya penanganan awal dan resusitasi.
* Pengangkutan/transport yang tidak adekuat.
* Dikirim ke RS yang tidak adekuat.
* Tindakan bedah yang terlambat.
* Disertai dengan cedera multipel yang lain.

Penanganan awal cedera kepala sangat penting karena dapat mencegah terjadinya cedera otak sekunder sehingga dapat menekan morbiditas dan mortalitasnya. Penanganan awal ini termasuk pada penatalaksanaan segera ditempat kejadian dan proses transport penderita secara benar ke fasilitas lain yang lebih lengkap. Jadi tujuannya tidak saja untuk menolong jiwa pada penderita cedera kepala tetapi mencegah terjadinya sequele seminimal mungkin.

read more : http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Topik.html


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: