Stress dan reaksi tubuh

4 07 2009

Stress sering diartikan secara sekilas sebagai tekanan yang sering dihadapi sehari-hari. Di saat masalah datang menghadang, orang-orang kerap dengan mudah mendefenisikan diri mereka dalam keadaan ini. WASPADA Online

Stress sering diartikan secara sekilas sebagai tekanan yang sering dihadapi sehari-hari. Di saat masalah datang menghadang, orang-orang kerap dengan mudah mendefenisikan diri mereka dalam keadaan ini.

Padahal, kalau mau ditinjau dari segi medis secara lengkap, stress meliputi aspek yang sangat luas termasuk dalam reaksi-reaksi sistem tubuh yang diakibatkannya, dalam kata lain stress tidak selamanya hanya berhubungan dengan pikiran.

Secara lengkap, stress dapat didefenisikan sebagai beban jasmani dan rohani yang melewati
ambang batas tubuh seseorang, dan memang, dari segi yang paling sering, faktor pemicu stress banyak dikaitkan dengan faktor emosional termasuk pikiran, meskipun disamping itu berperan pula faktor fisik sebagi pemicunya.

Ada banyak faktor fisik yang dimaksudkan disini termasuk polusi udara, suhu, panas, kebisingan melebihi ambang batas dan sebagainya, dengan kata lain lingkungan memang sangat mudah muncul sebagai pemicu stress ini.

Stress dan Berbagai Reaksi Tubuh
Orang sering tidak menyadari kalau faktor stress erat sekali kaitannya dengan reaksi tubuh yang merugikan kesehatan. Penyebab penyakit kebanyakan sekarang ini, dari banyak riset yang dilakukan oleh para ahli, menemukan stress berperan penting dalam menimbulkan penyakit-penyakit serius bahkan sampai pada mutasi sel yang berperan dibalik terjadinya kasus-kasus kanker.

Latar belakang utama dari pemicu ini sebenarnya ada pada reaksi yang mengakibatkan serangkaian keadaan dimana tubuh akhirnya kehilangan banyak aspek penting dalam proses kerjanya sehingga salah satunya dapat secara drastis menurunkan daya tahan tubuh, sebagai faktor utama yang berperan dalam melawan penyakit. Ketika kita menghadapi stress, tubuh akan mengadakan reaksi secara terpadu untuk menghadapi stressor (berbagai hal yang berperan sebagai pemicu stress) tersebut.

Ada beberapa mekanisme yang kini sudah dibuktikan, dan beberapa diantaranya berkaitan dengan sistem hormonal, dimana stress secara otomatis akan menyebabkan otak mengaktifkan sistem hormon untuk memicu sekresinya.

Para ahli menilai mekanisme hormonal ini dapat menjelaskan penurunan daya tahan tubuh yang dipicu dari keadaan stress tersebut, paling tidak sebagai satu faktor yang paling relevan untuk menemukan hubungannya secara signifikan.

Stress dan Faktor Hormonal
Dari beberapa penelitian, stress paling banyak memicu sekresi hormon kortisol, dimana hormon ini selanjutnya akan bekerja mengkoordinasi seluruh sistem di dalam tubuh termasuk jantung, paru-paru, peredaran darah, metabolisme dan sistem imunitas tubuh dalam reaksi yang ditimbulkannya.

Sekresi hormon ini sekaligus menjelaskan mengapa ketika menghadapi stress tekanan darah dan denyut jantung meningkat secara cepat. Peningkatan kerja sistem pernafasan ini akan mengakibatkan paru-paru bekerja ekstra untuk mengambil oksigen lebih banyak hingga meningkatkan juga peredaran darah di seluruh bagian tubuh mulai dari otot-otot hingga ke otak, dan peningkatan tersebut disebutkan beberapa riset bisa naik mencapai 300% melebihi batas normal.

Akibatnya, bukan jantung saja yang dapat terasa berdebar, namun keseluruhan sistem tubuh termasuk pengeluaran keringat juga akan meningkat dengan cepat.

Selain hormon kortisol, ada hormon lain yang turut berperan dalam reaksi ini, diantaranya hormon katekolamin yang terdiri dari zat aktif dopamin, norepinefrin dan epinefrin yang lebih dikenal dengan adrenalin. Selain meningkatkan sekresi hormon yang erat kaitannya dengan peningkatan kerja sistem tubuh ini, katekolamin tadi juga akan mengaktifkan suatu sistem ingatan jangka panjang yang akan mengingat stressor yang sama pada peristiwa selanjutnya serta menekan bagian otak yang berperan dalam ingatan jangka pendek.

Dalam sebuah penelitian, penekanan ingatan jangka pendek ini dinilai para ahli sebagai faktor utama yang menyebabkan orang tidak lagi dapat dengan mudah berpikir secara rasional ketika mereka dilanda stress.

Sistem Imunitas dan Metabolisme Tubuh
Dari pengaturan pusat hormonal tadi, sistem imunitas tubuh akan mengaktifkan beberapa jalurnya pada kulit, sumsum tulang dan kelenjar limfe untuk lebih siaga terhadap perlawanan stress tersebut.

Aliran darah di kulit biasanya akan berkurang untuk dialihkan ke organ lain yang lebih penting sehingga orang-orang yang menghadapi stress biasanya gampang berkeringat, dimana dalam pengertian awam sering disebut keringat dingin.

Aliran cairan di mulut juga akan berkurang sehingga mulut akan mudah terasa kering dan otot-otot di sekitar kerongkongan akan menegang sehingga sulit untuk melakukan aktifitas termasuk berbicara dan menelan.

Terhadap sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan, para ahli tadi menjelaskan pengaruh reaksi stress dari proses kehilangan berbagai vitamin dan mineral akibat sekresi hormon adrenalin secara berlebihan, karena produksi hormon ini berkaitan erat dengan peranan berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin B dan C, besi, kalium serta kalsium.

Akibatnya, bukan saja kehilangan vitamin dan mineral tadi yang jadi masalah, namun juga efek lanjutnya terhadap pertahanan dan imunitas tubuh yang menjadi salah satu peran penting dari vitamin dan mineral-mineral tubuh tersebut dalam faktor penting pembentuknya, misalnya vitamin C yang berperan dalam pertahanan tubuh dan vitamin B yang berperan dalam pengaturan sistem saraf.

Lebih lanjut, penurunan semua sistem ini akan mempengaruhi asupan normal tubuh dimana penderitanya biasanya menjadi kurang beristirahat,sulit tidur, kurang nafsu makan sementara mereka harus mengeluarkan energi berlebihan untuk mengatasi stress yang mereka alami, sehingga kehilangan zat-zat gizi menjadi patokan penting disini.

Proses psikologis yang terjadi juga dengan mudah bisa memicu berbagai penyakit yang dikenal
sebagai psikosomatik mulai dari pusing, diare, mualmuntah, sakit otot dan sendi, dan banyak gangguan fungsi lain sebagai akibat terganggunya berbagai sistem tubuh yang disebutkan diatas.

Dari banyak mekanisme yang mereka temukan, para ahli yang mengadakan riset dalam bidang ini menyebutkan lagi bahwa besarnya peranan stress dalam memicu berbagai penyakit tanpa disadari oleh penderitanya bahkan tak jarang oleh tenaga medis sendiri, menyebabkan penting sekali untuk menelusuri kejadian stress yang menimpa pasien dalam suatu sistem terapi secara terpadu, dan menurut mereka lagi, hal ini sekaligus menjelaskan mengapa sebagian penyakit bisa menemukan progresifitas penyembuhan yang baik setelah faktor stress ini ikut ditangani.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: